Seperti yang kita ketahui sekarang, Kondisi Covid-19 mulai parah lagi di Bangka Belitung dan SMA Santo Yosef memutuskan untuk melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) atau istilah yang lebih disukai siswa "Online School" lagi. Online School sebenarnya bukan hal yang baru untuk murid-murid SMA Santo Yosef, dikarenakan 100% dari siswa angkatan 2020/2021 dan 2021/2022 adalah siswa lulusan "Jalur Corona" dimana semua siswa diluluskan dengan menggunakan UAS online yang "memudahkan" siswa untuk lulus. Dan untuk Angkatan kelas 2020/2021, mereka menjalani kelas 10 mereka online selama dua semester, dan setengah semester selama kelas 11. Mungkin PJJ adalah keputusan yang terbaik untuk situasi sekarang, tapi mari kita dengarkan beberapa sharing dari murid XI IIS 1.

"Pembelajaran Tatap Muka kembali ditiadakan karena Pandemi Covid yang semakin meningkat mungkin akan memberikan dampak yang negatif juga positif, Membuat siswa mengalami kesulitan belajar dalam memahami materi, Banyaknya guru yang menggunakan metode penugasan kepada siswa, Mungkin juga kurangnya rasa tanggung jawab yang dimiliki karena dengan media yang ada pembelajaran tersebut dapat diketahui dengan mudah, kemudian juga ada dampak negatifnya yaitu porsi waktu antara mengerjakan tugas dengan bermain game, maka porsi waktu bermain game atau bermain sosial media jauh lebih lama daripada porsi waktu mengerjakan tugas, sehingga pada akhirnya siswa lebih banyak bermain gamenya atau bermain sosial medianya daripada mengerjakan tugas, yang menimbulkan sifat menunda-nunda pekerjaan. Tapi dari ini semua kita juga pastinya akan mendapatkan dampak positif yaitu salah satunya melatih diri juga meningkatkan kesadaran serta kemandirian siswa untuk melakukan kewajiban yang dimiliki."
- Stephanie
"Kalo perasaan ku balik online sih ade seneng kek ade dak, satu sisi seneng karna dak perlu bangun terlalu pagi buat
prepare ke sekolah terus bisa lebih santai juga pas belajar a, kalo dak seneng a sih mungkin karna dk bisa ketemu kawan langsung jadi rada bosen terus lumayan sepi.
Kalo dampak mental sih kayak a dak jelek dak bagus juga. Tapi buat ku bikin kurang produktif aja kalo online ne sih. Jadi lebih males-malesan."
- Dhea
"Perasaan saya balik lagi ke sekolah online kurang menyenangkan karena saya merasa kurang efektif dalam hal belajar online selama ini dan cepat membosankan karena memang berbeda dengan keseharian kita yang biasanya belajar bersama di kelas namun sekarang menjadi belajar sendiri-sendiri dirumah.
Untuk kesehatan mental menurut saya sih ada dampak nya, karena sekolah online yang mengharuskan kita untuk diam dirumah jika nanti pada saat kita sudah diharuskan keluar dan bertemu orang banyak ada efek dari diri kita yang berubah, bisa menjadi insecure dan berbagai macam efek buruk. Tetapi itu tergantung dari diri kita sendiri, bagaimanaa kita mengontrol nya."
- Fadia
"Menurut ku balik lagi online to agak kurang seru karena pertama pola tidur ku jadi berantakan terus baru aja kenal/dekat sama teman baru terus online lagi dan belajar jadi kurang bisa di mengerti susah untuk di paham dan sekolah online ini kurang bersensasi gk ada yang seberti dulu ada acara di sekolah ikut lomba yang di ada kan di sekolah jadi aku lebih memilih sekolah offline 👍"
- Chin Yie
"Menurutku sekolah online ni kurang bagus bagiku karena pertama kurang e sosialisasi kek temen" , kedua pola tidur berantakan , ketiga suasana belajar e dk seperti offline yg deket sama guru saling diskusi secara langsung sama temen". semoga sekolah offline bisa segera dan covid segera menurun👍🏻"
"Pertama-tama sebagai penulis dan yang merangkai artikel ini, saya ingin memperlihatkan suatu
meme yang saya buat secara iseng-iseng, tapi sangat memperlihatkan situasi kami sebagai siswa di sekolah online.
Researchers: Data shows students are more active in online school
The Students:
(Peneliti: Data-data membuktikan bahwa siswa lebih aktif di Sekolah Online
Siswa-Siswa:)
Walaupun ada siswa yang lebih memilih belajar online, mungkin dikarenakan jarak rumah ke sekolah, atau memang menjadi lebih produktif, atau mereka memang lebih menyukai keenakan rumah dan bantuan mbah google. Tidak dapat dibantah bahwa siswa menjadi lebih malas dan kurang aktif dalam pembelajaran. Itu juga sama dengan guru. Karena mereka tidak dapat berinteraksi secara langsung, mau itu bercanda dengan siswanya ataupun menghukum siswanya, gurupun mulai merasa malas dengan adanya sekolah online. Dimana mereka harus membuat room untuk meeting zoom/google meet atau hanya memberikan materi video dan soal di google form. Guru-guru pun dapat mulai merasa malas mengajar. Jika guru mulai malas, apalagi murid-muridnya.
Jadi, menurut saya, Sekolah Online adalah seperti teman kita yang kita baru temui selama 1 bulan, tapi dia merasa dia sangat dekat dengan kamu sampai kamu merasa tidak enak dia ada di rumah kamu selama 10 JAM. Jadi, jika kondisi mulai membagus dan kita dapat melakukan Sekolah Offline sebanyak 50% seperti semester 1 lagi, saya pikir semua murid SMA Santo Yosef akan merasa senang lagi, bukan hanya karena dapat bertemu dengan teman-teman mereka lagi, tapi juga belajar di kelas seperti masa Pra-Covid-19."
- Kenny
Dan itulah perasaan-perasaan yang dirasakan oleh beberapa murid XI IIS 1, semua setuju bahwa kesenangan sekolah online adalah waktu bangun mereka lebih fleksibel, dan mereka lebih fleksibel dalam belajar dalam rumah. Tapi, semuanya setuju bahwa dengan sekolah online, mereka tidak senang dengan tidak dapatnya berinteraksi dengan teman, dan tidak suka bahwa mereka merasa lebih malas dengan adanya sekolah online. Semoga kasus Covid-19 mulai menurun lagi, dan kita dapat kembali ke gedung sekolah dan menemui teman-teman kita lagi. Amin.
Penulis: Kenny Kurniawan
Tanggapan dari semua anggota kelompok 2: Stephanie, Dhea, Fadia, Chin Yie, Randi, Kenny Kurniawan
Comments
Post a Comment